Broken Vow

Di Penganugerahan Musik Grammy ke -51 beberapa hari lalu, Coldplay tampak merajai kemenangan dan menempatkan diri sebagai Song of The Year dan Best Rock Album. Coldplay mengalahkan I’m Yours-nya Jason Mraz dan Chasing Pavements-nya Adele. Jadi ngga heran kalo di tempat gue berada ini sekarang lagi sering2nya lagu ini dimainin. Emang sih…Livin La Vida emang keren banget. Tapi buat gue, lagu yang paling sering didengering malah lagu jadul Golden Memories. Hehehe…

Kebetulan soalnya waktu itu lagi scroll2 lagu di Winamp. Eh..ternyata ada lagu “melankolis” yang nadanya sedih banget. Judulnya Broken Vow. Dinyanyiin sama Lara Fabian.

Wah..lagunya terenyuh banget. Kalo didengerin liriknya kok lama2 makin menyedihkan. Jadilah coba cari2 di lyricmode. Weleh!….ternyata emang tragis ceritanya.

Lara Fabian
Broken Vow lyrics

Tell me her name I want to know
The way she looks and where you go
I need to see her face, I need to understand
Why you and I came to an end

Tell me again I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night when I’m here all alone
Remembering when I was your own

I’ll let you go
I’ll let you fly
Why do I keep on asking why?
I’ll let you go
Now that I’ve found
A way to keep somehow
More than a broken vow

Tell me the words I never said
Show me the tears you never she’d
Give me the chance, that one you promised to be mine
Or has it vanished for all time?

I’ll let you go
I’ll let you fly
Why do I keep on asking why?
I’ll let you go
Now that I’ve found
A way to keep somehow
More than a broken vow

I close my eyes
And dream of you and I and then I realize
There’s more to love than only bitterness and lies
I close my eyes

I’d give away my soul to hold you once again
And never this let this moment end

I’ll let you go
I’ll let you fly
Now that I know, I’m asking why

I’ll let you go
Now that I’ve found
A way to keep somehow
More than a broken vow

Gout dan Asam Urat

Latar Belakang

Masyarakat awam seringkali memiliki persepsi yang salah tentang penyakit yang satu ini. Bila seseorang menderita nyeri di sendi-sendi maka langsung dikatakan mengalami asam urat. Sedangkan kalau kita pilah, maka banyak sekali penyakit yang dapat membuat keluhan nyeri di persendian. Biasanya pasien dengan gejala seperti ini datang ke dokter dengan mengatakan bahwa dirinya memiliki gejala asam urat dan meminta agar diperiksakan kadar asam urat dalam darah. Hal ini menjadi problematis karena mind setting yang sudah ada di kepala pasien harus bisa diubah agar dokter bisa menjadi lebih objektif dalam menegakkan diagnosa.

Dilihat dari sisi biokimiawi, asam urat adalah hasil metabolisme dari purin. Purin itu sendiri adalah turunan dari protein yang terkandung di dalam tubuh. Purin juga didapatkan dari makanan yang kita konsumsi. Pada golongan primata, adenosin (purin) dimetabolisme oleh tubuh menjadi asam urat oleh enzim adenosine diaminase. Selanjutnya asam urat akan dimetabolisme lagi menjadi allantoin yang larut air oleh enzim uricase. Namun pada manusia enzim ini sangat sedikit sehingga hasil akhir dari purin adalah asam urat.

Bila kadar asam urat semakin tinggi dan melewati kadar jenuh dalam tubuh, maka asam urat lambat laun akan mengendap dan mengkristal. Kristal asam urat, yang bila dilihat dibawah mikroskop berpolarisasi berbentuk jarum ini, paling sering mengendap di sendi-sendi dan jaringan ikat tubuh. Adanya endapan kristal asam urat akan menyebabkan sendi meradang atau yang biasa disebut sebagai arthritis atau Gout.

Sebenarnya Gout itu sendiri tidak melulu disebabkan oleh endapan kristal asam urat atau monosodium urate (MSU) saja. Kristal-kristal lain seperti calcium pyrophosphate dihydrate (CPPD), calcium hydroxyapatite (HA), dan calcium oxalate (CaOx) juga sering memberi peranan terjadinya Gout. Pengendapan yang patologis di tubuh paling sering disebabkan oleh adanya gangguan ginjal. Hal ini dikarenakan salah satu fungsi ginjal adalah untuk mengekresikan kristal-kristal tersebut.

 

Gejala Klinis

Pasien dengan gejala gout arthritis akan mengalami peradangan pada satu atau beberapa persendian. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi metatarsophalangeal dengan jari kaki pertama. Tapi tidak jarang sendi lutut, tarsal, dan pergelangan kaki juga ikut terlibat. Nyeri yang biasa dikeluhkan pasien adalah tajam dan kadang membuat pasien sampai tidak bisa berjalan. Pada beberapa orang nyeri dirasakan terutama setelah bangun dari tidur.

Bila dilihat dengan kasat mata, sendi tampak bengkak, hangat dan  kemerahan. Bila ditekan atau digerakkan terasa nyeri. Pasien sering kesulitan memakai kaus kaki atau sepatu karena hal ini. Namun pada beberapa kasus, keluhan-keluhan ini bisa saja tidak ditemukan. Pasien kadang hanya mengeluhkan nyeri saja tanpa ada tanda-tanda peradangan lain. Semua keluhan ini biasanya diderita oleh para lansia dan tidak jarang juga melibatkan peradangan pada sendi jari-jari tangan. Serangan gout awal biasanya akan mereda dalam waktu 10 hari dan kebanyakan pasien tidak memiliki gejala sisa setelahnya hingga episode serangan berikutnya. Kadang bisa juga ditemukan benjolan-benjolan berisikan kristal asam urat, yang disebut tophi, di bawah telinga atau di sendi-sendi yang terlibat.

                Serangan akut dicetuskan oleh beberapa hal seperti mengkonsumsi makanan tinggi purin, trauma, setelah menjalani pembedahan, minum alkohol, terapi hormon dan kortikosteroid, terapi menurunkan kadar asam urat, menderita penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung. Pria lebih cenderung terkena gout sembilan kali lebih tinggi daripada wanita dan Gout lebih sering ditemukan pada wanita yang telah menopause.

 

Pemeriksaan

Setelah memeriksa keadaan sendi yang mengalami peradangan, dokter anda biasanya akan memeriksakan kadar asam urat dalam darah. Kadar asam urat yang tinggi adalah sangat sugestif untuk diagnosis Gout Arthritis. Namun tidak jarang kadar asam urat ditemukan dalam kondisi normal. Keadaan ini biasanya ditemukan pada pasien dengan pengobatan asam urat tinggi sebelumnya. Karena kadar asam urat sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh pengobatan maka nilainya sangat rendah sebagai penentu diagnosis.  Kadar standar atau kadar normal di dalam darah adalah berkisar dari 3.5-7 mg/dL.

                Pemeriksaan terbaik untuk menegakkan diagnosis adalah dengan pemeriksaan cairan sendi (sinovial) atau cairan yang diambil tophi. Cairan hasil aspirasi jarum yang dilakukan pada sendi yang mengalami peradangan akan tampak keruh karena mengandung kristal dan sel-sel radang. Seringkali cairan memiliki konsistensi seperti pasta dan berkapur. Agar mendapatkan gambaran yang jelas jenis kristal yang terkandung maka harus diperiksa di bawah mikroskop khusus yang berpolarisasi. Kristal-kristal asam urat berbentuk jarum atau batangan ini bisa ditemukan di dalam atau di luar sel. Kadang bisa juga ditemukan bakteri bila terjadi septic arthritis.

 

Pengobatan

Pada serangan akut atau pada puncak peradangan, penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) atau obat glukokortikoid bergantung pada usia dan kondisi pasien. Dalam keadaan akut, dokter akan meresepkan Colchisin 0.6 mg. Obat ini harus diminum setiap satu jam sekali hingga keluhan mereda atau bila timbul gejala toksik pada saluran pencernaan seperti diare dan mual-muntah. Penggunaan obat ini harus dalam pengawasan ketat dari dokter.

Selain itu penggunaan Allopurinol dilihat juga sangat efektif. Allopurinol adalah analog struktural dari basa purin hipoxanthine. Allopurinol akan menginhibisi secara kompetitif terhadap enzim Xanthine Oxidase. Obat ini biasanya digunakan untuk fase rumatan atau maintenance. Target utamanya adalah pencegahan terjadinya serangan berulang pada orang yang memiliki resiko tinggi. Allopurinol dapat diminum 100 mg per hari untuk rumatan dan dapat ditingkatkan 100 mg per hari tiap minggunya hingga kadar asam urat dalam darah mencapai ≤6 mg/dL. Bila dosis yang diminum melebihi 300 mg per hari maka harus dalam dosis terbagi.

Obat anti-inflamasi lain yang bisa digunakan adalah Indomethacin 25-50 mg, Ibuprofen 800 mg, atau Diclofenac 50 mg,  Probenecid 250 mg, dan Sulfinepyrazone 200-400 mg. Obat golongan penghambat selektif COX-2 biasanya lebih efektif tanpa resiko gangguan pencernaan. Namun biaya yang dikeluarkan untuk jangka panjang sangat tinggi karena harganya lebih mahal. Glukokortikoid oral seperti Prednison 30-50 mg, suntikan intravena Metilprednisolon, Betametasone 7 mg, atau suntikan di sendi dengan Triamsinolon Asetonid 20-40 mg adalah sama efektifnya.

                Pasien dengan asam urat tinggi diharuskan mengkonsumsi cairan yang lebih banyak dari biasanya. Hal ini bertujuan agar bisa menurunkan kadar asam urat dalam darah serta pencegahan terjadinya batu di ginjal. Pasien dengan Gout harus dipastikan mengkonsumsi cairan sebanyak 1500 ml setiap harinya.

 

Pencegahan

Pasien dengan Gout akan memiliki resiko untuk terkena serangan berulang. Untuk mengurangi resiko serangan maka penderita harus mulai mengatur pola hidup dan pola makan. Penderita harus memodifikasi semua faktor resiko yang ada. Berikut faktor risiko yang dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat.

  1. Obesitas atau kegemukan
  2. Konsumsi alkohol
  3. Penggunaan obat-obatan seperti Aspirin dosis rendah, Niasin, Cyclosporin, Pirazinamide, Etambutol.
  4. Dehidrasi atau kekurangan cairan
  5. Gangguan di sistem darah seperti  leukimia, limfoma dan gangguan hemoglobin
  6. Konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi seperti
    1. Daging merah yang berasal dari sapi, domba.
    2. Daging jeroan atau dalaman seperti otak, ginjal, hati, atau jantung.
    3. Kerang-kerangan, tiram, kepiting, remis dan juga telur binatang laut.
    4. Kacang-kacangan
    5. Sayuran seperti bayam, brokoli, kangkung, tauge
    6. Roti tawar dan biskuit
    7. Makanan kaleng seperti, sarden, kornet
    8. Buah-buahan seperti durian, alpokat dan es kelapa
    9. Minuman bersoda dan beralkohol

 

Berdasarkan penelitian University of Pittsburg, serangan gout atau asam urat adalah faktor risiko independen terhadap serangan jantung. Orang dengan asam urat tinggi memiliki kecenderungan untuk mengalami miocardial infarct dan 22% dari mereka fatal. Namun penelitian multi-center di Amerika dan Kanada menunjukkan bahwa konsumsi kopi dapat menurunkan resiko terjadinya Gout pada pria usia 40 tahun ke atas. Ada beberapa pendapat bahwa yang menyebabkan penurunan ini bukanlah kafein, tapi kandungan lain yang ada di kopi.

Lepas dari itu semua, banyak sekali aspek dalam hidup yang sangat mempengaruhi kejadian suatu penyakit. Telaah lebih jauh sedang dilakukan untuk memperbaiki penanganan dan pencegahan terhadap Gout. Penulis berpendapat bahwa yang terbaik adalah perubahan pola hidup agar menjadi sehat. Modifikasi diet rendah kandungan purin, rajin berolahraga, banyak minum air dan hindari stress. Dengan meningkatkan faktor-faktor ini diharapkan bukan hanya Gout saja yang terhindar, tapi juga penyakit mematikan yang lain.

 

 

Sumber:

Harrison’s Principles  of Internal Medicine 16th edition

Handbook of Clinical Drug Data 10th edition

http://www.medicinenet.com/gout/article.htm

 

Petualangan si Mamat bab 2

Melihat begitu antusiasnya respon temen-temen sama novel cupu buatan gue ini, maka segera deh gue post bab yang kedua. Mudah2an makin tambah tertarik yah…

Jangan lupa. Kalo mau komen, kritik, saran atau hinaan selalu terbuka di blog gue ini.

Bab ke-Dua:

Malam Kamis jam 20.43

 

                Malam itu Mamat rasanya bingung gundah gulana. Setelah ia berjuang keras mendapatkan nomer telepon rumah Vani, seharusnya ia bisa langsung telepon. Tapi beribu pertanyaan datang runtun silih berganti. Nanti dia bakal ngangkat gak ya? Trus gue mau ngomong apa? Klo kehabisan bahan kan bisa runyam. Akhirnya dia coba susun terlebih dahulu bahan-bahan pembicaraan yang menurutnya bakal menarik.

Hmm…si Vani itu setau gue sekarang lagi mau masuk TBM (Tim Bantuan Medis). Apa gue ngobrol tentang itu aja ya? Gue kan udah angti (anggota inti).

Memang kebetulan biar ‘hancur-hancur’ begini, masih ada lah yang bisa Mamat banggain sebagai seorang cowo. Dua tahun lalu Mamat sempat terpilih jadi ketua organisasi kemahasiswaan yang terpandang di kampus, Tim Bantuan Medis Senat Mahasiswa FKUI. Selama setahun juga ia sempat cuti dulu dalam kejar-mengejar cewe. Maklum biar begitu Mamat terkenal orang yang profesional. Baginya jangan pernah mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan. Jadi klo lagi menjabat suatu pekerjaan, fokus aja. Jangan mikir macam-macam. Setelah setahun berlalu baru deh Mamat akhirnya memutuskan untuk kembali ke dunia ‘gebet-menggebet’. Apalagi ditambah dengan sebuah gelar mantan ketua TBM. Terdengarnya lumayan mempesona tuh. Tapi sayang-disayang ternyata itu hanya khayalan gila semata, karena setelah setahun statusnya masih saja ‘jomblo menyedihkan’. Bahkan lalat pun segan untuk hinggap.

Dengan menarik nafas dalam-dalam Mamat mengambil HP CDMA miliknya dan memencet nomor telepon yang tercatat di kertas selembar yang ia dapatkan dari teman sekelas Vani. Harga selembar kertas ini lumayan mahal juga. Soalnya harus ia tebus dengan lima skup es krim kafetaria. Cukup dalam juga ia merogoh kantungnya. Abis mau bagaimana lagi, demi mengejar impian, apapun akan dia berikan.

Lalu terdengar nada tunggu.

“Tuut…tuut…tuut….kletek….halo, assalaamu’alaikum?”. Terdengar suara perempuan dengan logat Jawa medok di ujung telepon.

“wa’alaikumussalam, bisa bicara dengan Vani?”, tanya Mamat ragu. “Oh iya…tunggu sebentar ya”. Lalu terdengar suara panggilan.

“Neng Vani, ada telepon!”. Suara perempuan itu terdengar jauh. Sepertinya yang mengangkat telepon tadi itu pembantunya. Di telepon terdengar suara langkah yang makin mendekat. Diikuti suara gagang telepon terangkat.

“halo…Assalaamu’alaikum”. terdengar sebuah suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

“wa’alaikumussalam. Ehh…ini Vani ya?”. Nada Mamat takut.

“iya…ini siapa ya?”. Tanya Vani

“ini Mamat”.

“Mamat….Mamat siapa?”

“Mmm…mungkin lo nggak inget, tapi gue Mamat yang waktu itu pernah kenalan di depan Kafe”.

Mamat gak akan lupa dengan perkenalannya pertama kali dengan Vani. Waktu itu hari Kamis tanggal 20 November 2007 pukul 12.37 BBWI (Bagian Barat Waktu Indonesia). Hujan sedang rintik-rintik. Setelah makan siang, kafetaria FKUI masih rame dengan orang-orang yang masih menikmati jam istirahatnya. Beberapa mahasiswa masih nongkrong-nongkrong di depan kafe ngobrol dengan temannya. Waktu itu Mamat baru aja selesai buang hajat di WC depan kafe. Emang jadi kebiasaannya klo abis makan perutnya langsung sakit dan harus ‘nyetor’ dulu baru perutnya tenang. Klo ngga gitu, dijamin dia bakal melintir menahan mulas saat diskusi siang.

Keluar dari kamar mandi di depan kafe, mata Mamat langsung terpaku pada sebuah paras elok selayak bidadari. Otaknya kembali berputar dan berkata,

“Mamat. Sampai kapan kau mau jadi seorang pengecut?. Berkenalan dengan seorang gadis saja kau takut. Belum bertemu dengan orang tuanya. Apakah dirimu pantas disebut sebagai laki-laki?”.

Mamat berkata, “otakku, bukan maksudku untuk jadi pengecut. Tapi saya sedang mencari waktu yang tepat untuk berkenalan. Karena bagi saya perkenalan adalah sesuatu yang sangat penting dalam suatu hubungan antar manusia. Di perkenalan lah pertama kali kita mendapat kesan. Di situ lah pertama kita bisa menarik perhatian”.

Otaknya membalas, “ah…alasan saja kau!. Dari kemaren bilangnya begitu, papasan beberapa kali juga gak pernah mau maju. Sudah! Kalau kau tak mau kenalan, aku tak mau lagi memberimu saran”.

Mamat bingung, “loh?! Nanti kalau bukan kamu, otakku, siapa lagi yang akan berfikir untukku?”.

“saya rasa itu tidak akan menjadi masalah. Toh saya juga jarang digunakan”.

“baiklah…klo begitu, saya akan turuti perintahmu kali ini”. Kata Mamat. “saya akan mencoba berkenalan dengannya sekarang juga”.

Mamat lalu dengan menggagahkan diri datang menghampiri Vani yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“ehh…..halo…”, sapa Mamat canggung.

Semua mata yang mendengar suara Mamat langsung memandangnya dengan seksama. Deg!. Jantung Mamat langsung nyot-nyotan. Dug-dug-dug-dug….semakin lama semakin kencang. Sampai-sampai ia bisa mendengarnya di telinga sendiri. Semua orang masih menatap Mamat.

“ehh….boleh gak saya kenalan?”, suara Mamat memecah kesunyian.

Tangan Mamat menjulur mengharap jabatan tangan ke arah Vani. Teman-teman Vani tersenyum geli. Vani yang ditanya berkerut dahinya lalu tersenyum.

“Oh mau kenalan. Iya boleh, nama saya Vani”. Tangannya tidak menjabat tangan Mamat tapi bersedekap di dada seperti layaknya salam orang Jawa.

Mamat menarik tangannya canggung. “Nama gue Ahmad. Ahmad Husaini bin Muhammad Jaelani”. Teman-teman Vani kembali tersenyum.

“tapi gue biasa dipanggil Mamat”. Jelas Mamat.

“Oh ya….Kak Mamat”, ulang Vani.

“heheh…iya betul”. ‘duh ini cewe cantik bener!’ kata Mamat dalam hati. Dari jauh udah cantik, dari deket tambah cantik.

Teman-teman Vani yang dari tadi tersenyum-senyum membisikkan sesuatu ke telinga Vani. Langsung ditanggapi dengan tertawa kecil olehnya. Vani lalu berkata kepada Mamat.

“kak Mamat tadi abis dari kamar mandi ya?”

Mamat bingung, “Iya…kok bisa tau gue dari kamar mandi?’.

“Abis mmm…..maaf“, tangannya menunjuk ke arah celana Mamat.

“itu celananya belum diresletingin”.

Sontak Mamat kaget melihat resleting celananya yang menganga terbuka menunjukkan sedikit warna celana dalamnya yang biru. Mamat langsung bergegas menarik resletingnya ke atas. Mukanya malu memerah seperti kepiting rebus. Jantungnya yang sudah berdegup kencang dari tadi tampaknya sudah tak kuat lagi menambah kecepatan frekuensinya.

Mamat lalu berkata, “Eh…gue permisi dulu”.

Kemudian ia membalikkan badan dan langsung berlari masuk kembali ke kamar mandi. Vani dan teman-temannya kembali tersenyum geli.

Di kamar mandi Mamat berkata, “ini semua gara-gara lo!”.

Tapi yang ia dengar hanya suara tertawa di kepalanya, “wakakakak….dasar bego!, resleting kok bisa lupa nggak dinaikin”.

                Kejadian itu terus terngiang-ngiang di pikiran Mamat selama hampir sebulan. Bila teringat ia langsung kesal, sedih sekali rasanya. Perkenalan yang harusnya bisa jadi suatu langkah yang baik untuk memulai PDKT dan membangun citra, tapi kok malah hancur berantakan.

                Akhirnya ia pun berpikir, sudahlah buat apa disesali. Salah sekali, jangan sampai terulang lagi. Begitu prinsipnya. Jadi dengan segenap usaha ia coba mendapatkan nomor telepon Vani. Ia dapat dua nomor, HP dan rumah. Karena dia tidak mampu untuk nelpon HP, maka dia putuskan untuk mencoba memulai lagi usahanya lewat saluran telepon rumah.

“Mamat?…Mamat siapa?” tanya Vani.

“lo mungkin ngga inget, tapi kita pernah kenalan di depan Kafe”. Jawab Mamat.

“Mamat….ohhh..iya…Kak Mamat yang waktu itu celananya…mmm…”. kalimatnya terhenti. Vani takut untuk meneruskan. Sedangkan Mamat sadar bahwa akhir dari kalimat itu ya maksudnya ‘celananya yang belum diresleting’. Sial! Yang dia inget malah itu lagi.

Vani langsung menyambung kalimatnya, “kak Mamat ada apa nih?”

“ Oh nggak, gue cuma mau ngobrol aja”. Mamat menjawab. “sekalian gue juga mau wawancara tentang TBM”.

 “tentang TBM?”, Vani bingung. “bukannya saya sudah diwawancara TBM hari Senin kemarin?”, tanya Vani. “emang wawancara TBM ada berapa kali?”.

Mamat menjawab,”oh…nggak. bukan gitu. Maksud gue, cuma pengen nanya-nanya aja sama lo tentang TBM”.

“Lho?! Bukannya kak Mamat juga anak TBM yah?, kok malah nanya-nanya nya ke saya?”, timpal Vani.

“Mmm…..”, otak Mamat berfikir. ini cewe diajak ngobrol susah amat.

“Ehh….bukan. Gue mau nanya tentang motivasi lo untuk masuk TBM. itu juga klo boleh”. Nadanya takut.

“oh…emangnya Kak Mamat disuruh dari PPAB (Panitia Penerimaan Anggota Baru) untuk nanya saya?”, sepertinya Vani sedang mencari tau motivasi dari telepon ini.

“nggak kok. Gue gak disuruh siapa-siapa. Gue sendiri yang mau telepon”, kata Mamat.

“…………..”, Vani diam.

“Halo?…..Van?”, Mamat bingung. Kok ga ada tanggapan.

“ya udah, kakak mau nanya apa?”, nada Vani menunjukkan bahwa dia sudah mulai tau motif si Mamat menelpon dia.

“Mmm….apa ya?”, Mamat bingung mulai dari mana. Dia jadi menyesal. Tadi memang dia sudah memikirkan topik apa yang mau dibicarain. Tapi kenapa berhenti sampai di situ?. Harusnya dipikirkan lagi tentang apa saja yang bisa dibicarain.

“Emang tadi Vani lagi ngapain?”, Mamat merasa situasinya menegangkan. Jadi dia berusaha mengganti topik.

“lagi baca-baca”. Jawab Vani.

“lagi baca apa?….mau ujian yah?”, tanya Mamat.

“Ngga kok, kan baca buku itu gak harus klo mau ujian aja, kak”, tegas Vani.

“oh…iya. wah…rajin juga ya Vani”

“kak, katanya tadi mau tanya tentang TBM?”, nada Vani sedikit protes.

“ohh iya…mmm….emang kenapa si Vani mau masuk TBM”.

“Yah….emang kepengen aja, abis saya tuh tertarik banget sama kegiatan-kegiatan yang berbau medis. Trus saya liat TBM lumayan menarik”. Jelas Vani.

“oh….iya…ya…ya”, kepala Mamat sambil mengangguk-ngangguk. Bukan karena dia mengerti, tapi sambil berfikir mau nanya apa lagi. Soalnya jawaban Vani sudah bisa dia duga karena Mamat emang sebelumnya udah baca formulir hasil  wawancara Vani kemarin.

“Kak, saya mau nanya deh!”, tiba-tiba Vani bertanya balik.

“Yah?…”, Mamat sedikit kaget. “mau nanya apa?”.

“Emangnya wawancara dengan Kak Mamat ini ada hubungannya dengan TBM gak sih?’.

Mamat bingung juga ditanya begitu. Soalnya klo nanti dia jawab gak ada hubungannya sama sekali, Vani bisa minta udahan. Tapi klo dia bilang ada hubungannya, berarti dia bohong. Dia coba berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat.

Lalu terdengar suara. “Mamat!”, otaknya berkata. “ada yang bisa saya bantu?”.

“gue butuh saran nih, tak”. Mamat berharap. “gue harus ngomong apa ya?”.

“Mat, udah berapa kali sih lo nelpon cewe? Kok cupu amat?”, ledek otaknya.

“sialan loh!, kan lo tau gue udah sering. Cuma kali ini beda, tak”. Jawab Mamat.

“beda gimana maksud loh?”, tanya otak.

“cewe satu ini beda banget deh. Dia cantik, pintar, baik, calon istri gue banget deh pokoknya. Gue takut gagal nih. Gimana caranya biar dia tetep mau ngobrol ama gue tapi gue ga harus ngibul klo telepon gue ini gak ada hubungannya ama TBM?”.

“oh gitu!, gampang!. Bilang aja klo telepon lo ini gak ada hubungannya ama TBM, tapi lo sebenernya cuma mau ngobrol ama dia aja”. Usul Otak.

“eh dasar!….lo kan tau klo dia itu paling gak mau diganggu sama cowo”, Mamat protes.

“Mamat kawanku,  terkadang kejujuran bisa sangat membantu”. Kata Otak bijak.

“ah…kagak deh!”, tolak si Mamat.

“kak Mamat!”, suara Vani memecah perbincangan Mamat dengan otaknya yang mirip orang Schizophren.

“Kak Mamat kok ditanya malah diam aja. Dari tadi kakak gak ngomong apa-apa”, suara Vani ada nada kesal.

“Mmm….”, Mamat jadi tambah bingung.

“Kak!”, suara Vani memotong. “klo emang ini gak ada hubungannya dengan TBM bilang aja. Gak usah bingung. Klo kak Mamat cuma mau ngobrol ama Vani sebenarnya gak masalah ko. Tapi sayang Vani sekarang lagi gak bisa lama-lama”. Kata Vani.

“……………….”, Mamat tambah bingung.

“Klo gitu udah dulu ya, kak!”, Vani memotong lagi. “Maaf banget, Vani ada yang harus dikerjain. Lain kali bilang aja jujur. Gak usah bingung”. Mamat jadi sedikit malu. “kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Assalaamu’alaikum!”. Tutup Vani.

“Wa’alaikum salam”, balas Mamat.

‘Klik’. Sambungan telepon putus.

Mamat masih diam membingung. Di kepalanya terdengar suara. “Udah gue bilang apa!”.

Bagi Mamat, dia baru saja mendapat pelajaran berharga. Seharusnya klo tadi dia jujur, pasti Vani gak akan kesal sama dia.

Wah!, tapi tadi dia bilang kapan-kapan ngobrol lagi. Itu kan artinya gue bisa nelpon lagi. Sungguh senangnya!. Mamat merasa ada sedikit harapan di kehidupannya yang menyedihkan. Untuk pertama kalinya dia bisa bicara di telepon dengan seorang cewe tanpa dibilang, “tolong jangan ganggu saya lagi!” sebelum teleponnya diputus.

Untuk Mamat, mengejar seorang Vani itu bagaikan mengejar bintang. Easy to look but harder to reach. Gadis ‘gebetannya’ ini sosok yang sangat sempurna. Sedangkan dirinya hanya seorang anak tukang las.

Mamat yang besar dari keluarga Betawi asli, tergolong keluarga ‘elit’ alias ekonomi sulit. Usaha bengkel motor yang ditekuni babenya itu warisan dari engkongnya yang meninggal waktu ia duduk di SMP. Enyaknya di rumah bantu-bantu perekonomian keluarga dengan berjualan sayur biar dapurnya bisa tetep ngebul. Rumahnya yang dua petak dijadiin rumah kontrakan sebagian biar ada pemasukan tambahan.

Mamat sendiri bisa sekolah ampe masuk FKUI juga tidak lain karena enyaknya ini yang kagak makan bangku sekolahan tapi klo soal ngatur ekonomi keluarga paling jago. Dengan gali lobang disana tutup lobang disini, akhirnya Mamat bisa juga disekolahin ampe kuliah. Padahal di lingkungan rumahnya itu bisa dihitung pake jari sebelah tangan yang pada kuliah. Dengan modal motor Honda butut hadiah dari babenya karena ia pernah juara kelas di SMA, Mamat berangkat tiap pagi ke kampusnya di Salemba dengan semangat 45.

Bagi Mamat dosa dunia akhirat klo dia sampe ngecewain harapan kedua orang tuanya yang sangat menginginkan dia jadi dokter. Padahal dia sendiri sebenernya kepengen jadi sarjana teknik yang sekolahnya sebentar biar dia bisa langsung bantu biayain adiknya nerusin sekolah. Tapi enyaknya itu selalu bilang, “udah Mat, soal duit lo kagak usah bingung. Itu urusan enyak ama babe lo. Yang penting sekarang lo sekolah aje yang bener. Biar lo bisa jadi dokter. Enyak kepengen banget ada anak enyak yang jadi dokter”. Dengan modal wejangan enyaknya inilah  dia memberanikan diri ikut SPMB ngelamar masuk FKUI.

Petualangan si Mamat

Udah lama nih ngga nulis blog. Kasian banget ya. Maklum deh. Abisan gue bingung banget gmana caranya mengatur dan mendesign blog ini jadi menarik. Naro gambar aja bingung. Waktu itu si ayu ngasih petunjuknya ngga lengkap. Tapi biarlah. Nanti kalo udah pulang ke Jakarta gue tanya lagi sama dia.

Barusan gue lagi buka2 dokumen di laptop…eh….ternyata gue baru inget kalo ada novel dudul buatan gue yang belon kelar. Padahal udah mulai dikerjain dari kapan tau. Makanya biar bisa kelar dan biar gue ada pemacu, gue post di blog gue aja ya. Siapa tau ada browser ato surfer yang ngga sengaja buka blog gue trus bs ngasih masukan.

Novelnya gue post per bab. Jadi satu posting satu bab. Biar pada penasaran gitu deh…hehehe

Selamat menikamati! (menikmati maksudnya)

Judulnya:

Petualangan si Mamat

Nah…begini nih ceritanya…

Bab yang ke-Satu:

PSAU

 

Pagi itu Mamat bangun dengan mata yang masih sepet. Bagaimana tidak, tidurnya semalem sangat nggak nyenyak. “Vampir-vampir” kecil bersayap yang ‘kurang ajiar’ itu tidak sedikit pun membiarkannya tertidur. Tiap sudut dari kulitnya penuh bekas gigitan yang tampak memerah setelah digaruk. Menambah kesan kumal pada kulitnya yang memang sudah gelap. Ia sangat kesal. Tapi kalau ia ingat kembali apa yang terjadi semalam, semua  jadi begitu indah. Cewe gebetan yang selama ini ia PDKT akhirnya berhasil ia ajak ngobrol di telepon. Tidak tanggung-tanggung, hampir sepuluh menit mereka bicara di telepon.  Bagi Mamat ini merupakan suatu kemajuan yang sangat progresif.

Apalagi Vani si gadis blasteran Cina-Arab-Jawa itu memang terkenal tidak mudah menerima telepon dari cowo. Boro-boro telepon, disapa di depan mukanya aja klo kita gak dikenal yah jangan harap bakal dibalas. Sudah beribu hati cowo yang telah jatuh ke pelukan pesona kharismanya dan hancur saja luluh lantah tak terkira. Sudah menjadi rahasia yang terbuka untuk umum bahwa Vani anak FKUI angkatan 2005 ini memang primadona kampus. Terang saja, si Vani ini kurang apa lagi. Otaknya terkenal paling encer di angkatannya. Lepas dari sifatnya yang kadang  judes sama cowo, dia itu sebenarnya baik dan ramah. Dia cuma gak suka aja sama cowo-cowo yang kadang suka menggodanya untuk mencari sensasi. Tapi dalam hal bantu membantu teman-temannya, dia selalu paling depan. Trus klo dari segi fisik…mmh!!…bayangin aja gabungan antara Luna Maya dan artis pendatang baru Sandra Dewi.  Maklum, soalnya ia dapat ‘gen impor’ terbaik dari beberapa negara eksotis di dunia. Dia dapat turunan Jawa dari kakeknya, yang bertemu dengan neneknya yang keturunan Cina. Kemudian ayahnya yang kuliah di Amerika bertemu dengan ibunya yang punya keturunan Arab. Jadilah ia punya penampakan kulit putih, wajah oval dengan hidung yang mancung, rambutnya yang dulu lurus tergerai sekarang sudah ia tutup dengan jilbab panjang warna putih, warna kesukaannya.

Badannya yang tinggi langsing juga pernah mengantarnya jadi seorang covergirl di sebuah majalah remaja waktu ia duduk di bangku SMP. Di SMA ia sempat aktif di Rohis dan mulai mengenal Islam. Semenjak itulah ia tidak meneruskan dunia modelling dan memutuskan untuk menggunakan hijab (jilbab). Tapi biar begitu, makhluk yang namanya cowo mah gak akan pernah berhenti untuk terus mengejarnya. Apalagi ditambah sekarang ia sudah pakai jilbab. Tadinya yang ia cuma punya kriteria cantik, pintar dan baik, sekarang ditambah lagi dengan predikat “solehah”. Bahkan dia pernah langsung dilamar oleh seorang juragan minyak tanah dekat rumahnya untuk dijadikan istri ketiga. Tentu saja ia tolak mentah-mentah. Bukan karena prospek minyak tanah yang belakangan penjualannya makin menurun karena pembatasan oleh pemerintah, tapi karena waktu itu ia masih SMA kelas 3 dan ia masih kepingin kuliah. Jadi dokter, biar bisa membantu orang yang kesusahan katanya.

Mamat anak Betawi tulen yang modalnya cuma dengkul ini hatinya udah ‘kepincut’ sama Vani sejak ia kuliah di FKUI juga. Waktu itu ia sedang mengikuti acara PSAU (Pengenalan Sistem Akademik Universitas). Mamat yang saat itu sudah duduk di tingkat 4 di FKUI ikut menjadi panitia PSAU di fakultas. Dia lalu mendaftarkan diri menjadi seksi keamanan, niatnya sih biar bisa ngeliat cewe-cewe angkatan 2005 yang ‘lucu-lucu’. Lumayan, siapa tau ada yang kecantol.

                Di pagi pertama PSAU Mamat dapat tugas disuruh menjaga pintu gerbang. Ia harus menyuruh maba (mahasiswa baru) untuk segera lari ke barisan ke kelompok masing-masing dan untuk yang telat harus dipisahkan. Biasa bos, kita hukum dulu. Tak akan ada dosa yang terlewatkan di PSAU ini. Saat Mamat berteriak-teriak kepada maba untuk lari, tiba-tiba matanya terbelalak dan langsung terpaku pada seorang cewe yang memakai seragam putih-putih seperti maba lainnya. Tapi entah kenapa Mamat merasa ada sesuatu yang berbeda.

Jilbab putihnya yang bersih seputih awan bergerak halus saat tertiup angin. Tas karung beras buatan tangan berlogo makara melompat-lompat di punggungnya saat ia berlari. Pandangannya yang tunduk entah karena malu atau karena takut kepada senior-senior yang berteriak di depan wajahnya, membuat yang melihatnya terasa teduh. Hati Mamat terasa loncat dari medistinum (rongga dada) setiap kali berdetak. Semakin lama berdegup semakin kencang. Mulutnya cuma bisa menganga. Otaknya terus berusaha membangunkan Mamat dari ‘perbengongan’ ini. “Mat!!..oi!!..sadar!…tolong segera ditutup mulutmu biar gak kemasukan lalat lagi seperti kejadian kemaren di warung bakso Mang Toing. Kan kasian lalatnya, Mat”.

Tapi tetap saja alam bawah sadar si Mamat belum mau memberikan kekuasaannya. Dia masih terdiam terpaku. Matanya tanpa kedip. Waktu terasa berjalan dalam adegan lambat. Cewe itu terus berlari tanpa mata Mamat sedikitpun berpaling. Mamat jadi teringat, mungkin ini kali yang namanya bidadari. Soalnya waktu dia kecil, sering banget dia dikasih tau ama engkongnya untuk jadi anak yang baik. Jangan suka nyolong jambu tetangga. Karena klo kita baik, nanti hati kita akan suci. Hati yang suci sangat berguna. Bisa diterima di mana saja, dicari oleh siapa saja dan yang paling penting dia bakal masuk sorga dan bisa ketemu sama bidadari yang cantiknya seribu kali dari nenek lo. Begitu kata engkongnya.

                BUGHH!! Tiba-tiba adegan lambat itu berhenti setelah ia dapat tepukan (mungkin lebih layak disebut gebukan kali ya) di pundaknya. Si Budi temannya satu angkatan menyadarkan ia dari terpana itu.

“eh…dodol!. ngapain lo bengong kayak gitu?. Tutup noh mulut lo!. Nanti kemasukan lalat lagi kayak kemaren.” Tegur Budi. “emang lo lagi ngeliat apaan sih?! Kayak abis ngeliat setan aja”.

“itu bud, tadi ada maba cakep banget!. Gila!. Top banget dah”. Jelas si Mamat.

“laki apa cewe?”, tanya Budi.

“ya cewe lah, geblek!, emang lo pikir gue cowo apaan?!”, si Mamat kesal.

“hehe….”, Budi nyengir. “yang mana anaknya?”

“ayo’ sini!”, si Mamat menarik baju Budi membawanya ke barisan maba yang jumlahnya terus bertambah.

Setelah ia sedikit marah dengan maba yang lewat begitu saja tanpa bilang permisi, ia menghentikan langkahnya. Budi ikutan. Mata Mamat melihat dengan seksama ke arah cewe yang baris di tengah kelompok 20.

“itu bud!”, tanpa matanya sedikitpun berpaling.

“mana sih?”, Budi bingung.

“itu cewe yang tinggi pake jilbab putih”

“dasar goblok, yang pake jilbab putih di sini ada seratus lebih tau”. Si Budi ketus.

“ih dasar….sini bud”, ia tarik kepala si Budi dan mengarahkannya biar searah dengannya. “itu tuh!”. Mamat gak berani nunjuk. Takut dibilang norak sama panitia yang lain. Padahal mungkin saja sebagian panitia PSAU yang jomblo di sini juga sebenarnya memiliki niat yang sama dengan Mamat.

Akhirnya Budi bisa lihat juga, “oh…itu….hmm..”. Kepalanya mengangguk-ngangguk, bibirnya manyun. “boleh juga…..Anak mana, Mat?”, tanya Budi.

“gak tau. Tapi gue akan cari tau”. Kata Mamat. “dia lah bidadari yang gue cari selama ini. Dia lah mimpi gue, Bud”.

Si Budi menepuk pundak Mamat. “Mat, seperti biasa…setiap kali lo mau PDKT sama cewe, gue harus ngasih semangat lo dulu. Mamat kawanku…sadarlah!. engkau adalah cowo jelek berkulit hitam sehitam rambutmu yang pating keriwil kaya’ sarang tawon. Seandainya ada cewe seperti itu yang mau sama lo, itu tandanya Tuhan masih sayang sama lo. Jadi selamat berjuang memperbaiki nasibmu! Hehe…kawanmu ini akan mendukungmu selalu”, Budi nyengir lagi.

“sialan loh!. Bukannya doain malah ngatain!”. Mamat kesal.

“loh?! Itu cara gue ngasih lo semangat, Mat”.

                Sejak hari itu Mamat tak pernah berhenti untuk mengejar bintangnya. Mamat coba tanya-tanya ke teman-temannya di senat dan membuka-buka sedikit formulir maba. Ternyata nama lengkapnya Raden Ayu Vanirahma. Ia masih keturunan langsung dari keluarga keraton Solo. Kakeknya adalah sepupu langsung dari Sultan Mangkubumi. Nama Vani diambil dari sahabat ibunya waktu masih kuliah di Amerika dan Rahma adalah nama dari neneknya. Ia anak sulung. Adiknya dua orang dan keduanya laki-laki. Adik yang pertama masih duduk di SMA 8 kelas 2. Lalu adiknya yang paling kecil masih kelas 1 SD. Dia lahir di Boston, Massachusets tempat ayah dan ibunya bertemu waktu mereka kuliah di sana. Saat umur 2 tahun ia lalu dibawa pulang ke Jakarta. Ayahnya yang sekarang bekerja sebagai CEO di perusahaan yang bergerak di bidang konsultan selalu ingin agar dia kuliah ekonomi atau hukum. Ayahnya ingin agar perusahaan yang sudah ia rintis dari kecil ini bisa diteruskan oleh anaknya. Tapi Vani dengan tegas mengatakan bahwa ia ingin jadi dokter. Harapan dan cita-citanya untuk bisa menolong orang-orang yang tidak mampu untuk berobat. Agar orang yang kesulitan ekonomi bisa dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Lalu setelah sedikit beradu pendapat dengan ayahnya, akhirnya ia pun dibolehkan menjadi dokter.

                Mamat yang terus mengamati dari kejauhan setiap hari semakin frustasi. Tapi obrolan dia di telepon semalam adalah secercah harapan di padang gersang kehidupan Mamat. Yah…beginilah hidup seorang jomblo kronik yang menyedihkan. Baru bisa ngobrol di telepon aja rasanya tuh udah seneeeng banget. Walau sebenarnya klo mantan gebetan Mamat dibarisin mungkin panjangnya udah cukup untuk bisa nonton layar tancep. Tapi namanya juga PMDK (Pendekatan Melulu Dapet Kagak) walaupun Mamat udah menggunakan berbagai manuver untuk mendekati cewe tapi selalu saja kandas di tepi jalan, di atas aspal atau kadang di rerumputan, tergantung di mana tempat dia menembak cewe tersebut.

 

Di tanah papua

Tepat tanggal 9 Desember 2008 gue menginjakkan kaki di tanah  papua. Tepatnya Papua Barat dengan ibukota Manokwari. Daerah dengan jumlah penduduk 643.012 jiwa dan luas tanah 114.566,40 km2.

Gila ya? ternyata Papua itu jauh…

Bayangin aja! untuk sampai ke sini, gue harus transit 2 kali, naik pesawat 3 kali, dan naik boat 1 kali. Total perjalanan 16 jam. Ampun dah…

Yang nyebelin itu waktu naik Garuda. Di tiketnya tertulis klo berangkat dari dari CGK (jakarta) pada pukul 21:10 dan tiba pukul 05:50. Klo dari  situ kan kita berharap bakal bisa tidur di perjalanan. Tapi ternyata eh ternyata…dijamin kagak bakal bisa. Berangkatnya tepat jam 21:10 jam 12 malem pas lagi mulai ngantuk dan mau tidur, eh…pesawatnya mendarat di Makasar. Untuk isi fuel dan naikkin penumpang. Jadilah kebangun gue.

Daripada bengong2 di pesawat, ya akhirnya gue putuskan untuk jalan2 keluar ke bandara Hasanudin.

Bandaranya keren…masih baru banget. Sangat luas dan kosong. Jadi agak2 aneh juga. Dimana2 kaca. Kebayang lah klo siang pasti terang. Bisa ngeliat langsung pesawat yang bakal kita tumpangin.

Di bandara itu gue ga bisa jauh2. Takut nyasar dan takut pesawatnya mau berangkat lagi. Jadilah cuma pelanga-pelongo di situ. Duduk2 ga jelas…numpang beser trus dipanggil masuk ke pesawat lagi deh.

Di dalem pesawat, abis take-off, gue pikir ini mungkin waktunya tidur. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk tidur.

Tapi malahan dibangunin satu jam kemudian. Katanya waktunya sarapan. Ajegile!

Sarapan model apa jam 2 pagi?…

Dengan perut yg masih penuh, gue makan juga tuh mie bakso dari Garuda. Abisan daripada kagak makan, rugi bandar kan…hehehe

Perut tambah penuh aja. Bakalan bekri nih besok paginya…

Abis makan, berusalah gue dengan sekuat tenaga untuk tidur. Dengan berbagai gaya…dengan mangap mulut tentunya.

Lama-lama kok kuping gue sakit nih. Kenapa ya, kaya mau mendarat aja. Eh beneran ternyata….kita udah sampe. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Loh?! Iya yah…perbedaan waktu  JKT dengan papua itu 2 jam. Jadi yang dimaksud 05:50 yang di tiket itu waktu endonesa timur. Ampuuuunnn…

Ngantuk banget gue.

 

Di bandara Biak gue daftar ke KJP flight, penerbangan khusus karyawan yang mau ke KJP site, tempat tugas baru gue.

Pesawat yang bakal dinaikkin itu jenis Twin Otter. Berangkatnya masih jam 9. Lama banget ya!..

Di lounge yang berisikan sekitar 12 orang itu suasananya adem. Di tv distel video klip musik jaman jebot. Tambah bikin suasana ngantuk ajah. Tapi susah banget tidurnya. Soalnya posisi duduk di sofa. Makanya posisi tidur mangap pun dimulai lagi. Karena posisi tidak uenak, jadinya cuma kaya tidur ayam. Kebayang ngga tidur ayam sambil mangap?

Jam 8 kita dibangunin, katanya diminta cek in. Ditimbang berat badan dan berat bakwan…eh salah. Berat bawaan maksudnya. Karena cuman sedikit penumpangnya, jadi ga lama udah kelar. Abis selesai, masuk lagi ke lounge. Bingung dah mau ngapain. Mau tidur ud ga mood, nungguin masih lama. Mati gaya lah..

Petugas lounge akhirnya meminta kami untuk masuk ke ruang tunggu bandara. Pesawat twin otter soalnya ud dateng.

Menunggu di waiting room memakan waktu stengah jam lebih. MP4 gue ketinggalan di jakarta lagi….sebeel.

Di pesawat twin otter masih ga bisa tidur juga. Ngga enak banget. Getarannya kerasa. Kupingnya budek2 sakit.

Jam 11 sampe di bandara Babo. Bandara khusus KJP-LNG Tangguh. Naik bus untuk ke Jetty. Nyambung naik speed boat untuk ke site. Katanya perjalanan sejam. Tapi serasa setahun. Suasananya ud mulai panas banget. Walau ruangan speed boat dipasang AC, tapi kayanya cuma berfungsi sebagai kipas aja. Gerah bo.

Tidur setengah2…setengah ayam..setengah mangap.

Jam 13 siang sampe juga di Combo Dock LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Tanah Merah Papua barat.

 Papua ternyata memang panas….

“Welcome to the jungle, Hendra!’, kata temen2 di Klinik KJP Tangguh LNG.

 

NB: Oia….gue akhirnya jadi bekri di bandara Biak.

jalan-jalan gratis part 1

suasana hari senin pagi di klinik Buin Batu International SOS Newmont Nusa Tenggara seperti biasa. Ruamee..

Karyawan yang berobat datang secara bergerombol. Mulai dari yang bener2 sakit sampe yang dateng cuma minta surat sakit. Ngga sedikit dari karyawan yang mulai menggunakan sisi “keramahan” dari klinik untuk mendapatkan surat izin biar bisa “libur”.

Pagi itu udah menunjukkan jam 11.30. Pasti ngga terasa kalo pasien lagi banyak. Tau-tau udah mau siang aja. Tiba-tiba Chief gue manggil dan menanyakan “hendra, kamu udah ikut training escort belum?”

Gue jawab,”udah, mam (panggilan akrab Chief gue-Mami)”. Dia lalu menanggapi, “oke….kamu harus escort pasien ini ya”.

Mulut gue menganga. “hah?…”

“Ini ada pasien anak, fraktur femur. Kita mau evakuasi”.

“Ohh……kemana mam?, ke Surabaya?” gue nanya penasaran.

“ke bali..”

Deg…..ajegile. Ke Bali cuy!. Gue berusaha menahan senyum simpul. Soalnya bukan apa-apa. Seumur-umur gue belum pernah menginjakkan kaki ke Bali. Eh….ternyata malah bisa kesana gratis.

Gue terus berusaha menyisihkan rasa bingung campur senang. Gue terus ngingetin diri sendiri kalo ini bukan jalan-jalan, tapi tugas. Menolong seseorang yang sedang dilanda musibah.

Jam 13.00 gue udah diatas seaplane Cessna Caravan Amphibi-nya Travira Air. Pilotnya bule. Sendirian. Klo dia eror ga ada yang ngingetin tuh….gawat juga.

Di atas pesawat gue kebingungan. Kok vacuum matras yang menyangga pasien jadi lembek. Jadi ga vacuum lagi. Gue lalu berusaha mati2an untuk pompa tuh matras. Sampe keringetan kok ngga mau keras juga. Kok bisa gini yah?

Lama-lama gue sadar. Waktu di training kami dikasi tau kalo di ketinggian, maka gas akan mengembang. Lah…..kutu kupret. Ya pasti vacuum jadi lembek. Dodol lipet.

Karena kelamaan berdiri di pesawat kecil, kok perut gue tiba-tiba jadi mual. Wah gawat nih! Masa gue mabok.

Langsung aja gue duduk. Gue coba nenangin diri. Jangan sampe muntah. Kan malu sampe ke ubun-ubun. Masa escort doctor SOS mabok udara.

Gue tarik nafas dalem2….huuff…hahh….

Alhamdulillah…mualnya hilang pelan2. Jam 14.00 kita akhirnya mendarat di Bandara Ngurah Rai. Udah ditunggu sama ambulan SOS Bali. Wah…keren juga SOS. Selesai memindahkan pasien dari pesawat ke ambulan, kita langsung berangkat ke rumah sakit. Vacuum matrasnya ternyata emang tetap keras pas udah di darat. Ini jadi pelajaran buat gue tuh.

Di ambulan gue tetep berusaha nenangin pasien. Tapi karena posisi duduk yang miring2, kok mual gue kambuh lagi. Wah….kacau. Mual kali ini beneran. Rasanya perut gue udah mau mengeluarkan isinya. Mana yang duduk di depan gue orang tua pasien lagi. Jangan sampe muntah….jangan sampe muntah….

Mmmphhh….Perut gue aneh….Hmmmpph….Kacau dah….jangan muntah…

Gue berusaha mengambll plastik muntah yang gue ambil dari pesawat. Udah mau siap2…

Tapi tiba2 ambulan belok kiri. Dia masuk ke sebuah gedung. Alhamdulillah udah sampe.

Hah…gue bangun, trus berusaha menahan rasa mual.

Akhirnya hilang. Alhamdulillah.

Dengan penuh keringet dingin, gue masuk ke ruang IGD. Trus operan sama dokter sana.

Huufff…..kelar juga.

Lepas deh tanggung jawab gue. Berarti bisa jalan-jalan klo ada waktu. Hehehe…Masih sore soalnya.

Tulilit….tulilit….Hp oncall bunyi. “halo…”

“dokter hendra udah di RS?”

“iyah….udah operaan”

“oh bagus lah…..sekarang dokter bisa langsung ke bandara. Tolong cari penerbangan sore ini”

Gedubrak…