Melihat begitu antusiasnya respon temen-temen sama novel cupu buatan gue ini, maka segera deh gue post bab yang kedua. Mudah2an makin tambah tertarik yah…
Jangan lupa. Kalo mau komen, kritik, saran atau hinaan selalu terbuka di blog gue ini.
Bab ke-Dua:
Malam Kamis jam 20.43
Malam itu Mamat rasanya bingung gundah gulana. Setelah ia berjuang keras mendapatkan nomer telepon rumah Vani, seharusnya ia bisa langsung telepon. Tapi beribu pertanyaan datang runtun silih berganti. Nanti dia bakal ngangkat gak ya? Trus gue mau ngomong apa? Klo kehabisan bahan kan bisa runyam. Akhirnya dia coba susun terlebih dahulu bahan-bahan pembicaraan yang menurutnya bakal menarik.
Hmm…si Vani itu setau gue sekarang lagi mau masuk TBM (Tim Bantuan Medis). Apa gue ngobrol tentang itu aja ya? Gue kan udah angti (anggota inti).
Memang kebetulan biar ‘hancur-hancur’ begini, masih ada lah yang bisa Mamat banggain sebagai seorang cowo. Dua tahun lalu Mamat sempat terpilih jadi ketua organisasi kemahasiswaan yang terpandang di kampus, Tim Bantuan Medis Senat Mahasiswa FKUI. Selama setahun juga ia sempat cuti dulu dalam kejar-mengejar cewe. Maklum biar begitu Mamat terkenal orang yang profesional. Baginya jangan pernah mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan. Jadi klo lagi menjabat suatu pekerjaan, fokus aja. Jangan mikir macam-macam. Setelah setahun berlalu baru deh Mamat akhirnya memutuskan untuk kembali ke dunia ‘gebet-menggebet’. Apalagi ditambah dengan sebuah gelar mantan ketua TBM. Terdengarnya lumayan mempesona tuh. Tapi sayang-disayang ternyata itu hanya khayalan gila semata, karena setelah setahun statusnya masih saja ‘jomblo menyedihkan’. Bahkan lalat pun segan untuk hinggap.
Dengan menarik nafas dalam-dalam Mamat mengambil HP CDMA miliknya dan memencet nomor telepon yang tercatat di kertas selembar yang ia dapatkan dari teman sekelas Vani. Harga selembar kertas ini lumayan mahal juga. Soalnya harus ia tebus dengan lima skup es krim kafetaria. Cukup dalam juga ia merogoh kantungnya. Abis mau bagaimana lagi, demi mengejar impian, apapun akan dia berikan.
Lalu terdengar nada tunggu.
“Tuut…tuut…tuut….kletek….halo, assalaamu’alaikum?”. Terdengar suara perempuan dengan logat Jawa medok di ujung telepon.
“wa’alaikumussalam, bisa bicara dengan Vani?”, tanya Mamat ragu. “Oh iya…tunggu sebentar ya”. Lalu terdengar suara panggilan.
“Neng Vani, ada telepon!”. Suara perempuan itu terdengar jauh. Sepertinya yang mengangkat telepon tadi itu pembantunya. Di telepon terdengar suara langkah yang makin mendekat. Diikuti suara gagang telepon terangkat.
“halo…Assalaamu’alaikum”. terdengar sebuah suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
“wa’alaikumussalam. Ehh…ini Vani ya?”. Nada Mamat takut.
“iya…ini siapa ya?”. Tanya Vani
“ini Mamat”.
“Mamat….Mamat siapa?”
“Mmm…mungkin lo nggak inget, tapi gue Mamat yang waktu itu pernah kenalan di depan Kafe”.
Mamat gak akan lupa dengan perkenalannya pertama kali dengan Vani. Waktu itu hari Kamis tanggal 20 November 2007 pukul 12.37 BBWI (Bagian Barat Waktu Indonesia). Hujan sedang rintik-rintik. Setelah makan siang, kafetaria FKUI masih rame dengan orang-orang yang masih menikmati jam istirahatnya. Beberapa mahasiswa masih nongkrong-nongkrong di depan kafe ngobrol dengan temannya. Waktu itu Mamat baru aja selesai buang hajat di WC depan kafe. Emang jadi kebiasaannya klo abis makan perutnya langsung sakit dan harus ‘nyetor’ dulu baru perutnya tenang. Klo ngga gitu, dijamin dia bakal melintir menahan mulas saat diskusi siang.
Keluar dari kamar mandi di depan kafe, mata Mamat langsung terpaku pada sebuah paras elok selayak bidadari. Otaknya kembali berputar dan berkata,
“Mamat. Sampai kapan kau mau jadi seorang pengecut?. Berkenalan dengan seorang gadis saja kau takut. Belum bertemu dengan orang tuanya. Apakah dirimu pantas disebut sebagai laki-laki?”.
Mamat berkata, “otakku, bukan maksudku untuk jadi pengecut. Tapi saya sedang mencari waktu yang tepat untuk berkenalan. Karena bagi saya perkenalan adalah sesuatu yang sangat penting dalam suatu hubungan antar manusia. Di perkenalan lah pertama kali kita mendapat kesan. Di situ lah pertama kita bisa menarik perhatian”.
Otaknya membalas, “ah…alasan saja kau!. Dari kemaren bilangnya begitu, papasan beberapa kali juga gak pernah mau maju. Sudah! Kalau kau tak mau kenalan, aku tak mau lagi memberimu saran”.
Mamat bingung, “loh?! Nanti kalau bukan kamu, otakku, siapa lagi yang akan berfikir untukku?”.
“saya rasa itu tidak akan menjadi masalah. Toh saya juga jarang digunakan”.
“baiklah…klo begitu, saya akan turuti perintahmu kali ini”. Kata Mamat. “saya akan mencoba berkenalan dengannya sekarang juga”.
Mamat lalu dengan menggagahkan diri datang menghampiri Vani yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
“ehh…..halo…”, sapa Mamat canggung.
Semua mata yang mendengar suara Mamat langsung memandangnya dengan seksama. Deg!. Jantung Mamat langsung nyot-nyotan. Dug-dug-dug-dug….semakin lama semakin kencang. Sampai-sampai ia bisa mendengarnya di telinga sendiri. Semua orang masih menatap Mamat.
“ehh….boleh gak saya kenalan?”, suara Mamat memecah kesunyian.
Tangan Mamat menjulur mengharap jabatan tangan ke arah Vani. Teman-teman Vani tersenyum geli. Vani yang ditanya berkerut dahinya lalu tersenyum.
“Oh mau kenalan. Iya boleh, nama saya Vani”. Tangannya tidak menjabat tangan Mamat tapi bersedekap di dada seperti layaknya salam orang Jawa.
Mamat menarik tangannya canggung. “Nama gue Ahmad. Ahmad Husaini bin Muhammad Jaelani”. Teman-teman Vani kembali tersenyum.
“tapi gue biasa dipanggil Mamat”. Jelas Mamat.
“Oh ya….Kak Mamat”, ulang Vani.
“heheh…iya betul”. ‘duh ini cewe cantik bener!’ kata Mamat dalam hati. Dari jauh udah cantik, dari deket tambah cantik.
Teman-teman Vani yang dari tadi tersenyum-senyum membisikkan sesuatu ke telinga Vani. Langsung ditanggapi dengan tertawa kecil olehnya. Vani lalu berkata kepada Mamat.
“kak Mamat tadi abis dari kamar mandi ya?”
Mamat bingung, “Iya…kok bisa tau gue dari kamar mandi?’.
“Abis mmm…..maaf“, tangannya menunjuk ke arah celana Mamat.
“itu celananya belum diresletingin”.
Sontak Mamat kaget melihat resleting celananya yang menganga terbuka menunjukkan sedikit warna celana dalamnya yang biru. Mamat langsung bergegas menarik resletingnya ke atas. Mukanya malu memerah seperti kepiting rebus. Jantungnya yang sudah berdegup kencang dari tadi tampaknya sudah tak kuat lagi menambah kecepatan frekuensinya.
Mamat lalu berkata, “Eh…gue permisi dulu”.
Kemudian ia membalikkan badan dan langsung berlari masuk kembali ke kamar mandi. Vani dan teman-temannya kembali tersenyum geli.
Di kamar mandi Mamat berkata, “ini semua gara-gara lo!”.
Tapi yang ia dengar hanya suara tertawa di kepalanya, “wakakakak….dasar bego!, resleting kok bisa lupa nggak dinaikin”.
Kejadian itu terus terngiang-ngiang di pikiran Mamat selama hampir sebulan. Bila teringat ia langsung kesal, sedih sekali rasanya. Perkenalan yang harusnya bisa jadi suatu langkah yang baik untuk memulai PDKT dan membangun citra, tapi kok malah hancur berantakan.
Akhirnya ia pun berpikir, sudahlah buat apa disesali. Salah sekali, jangan sampai terulang lagi. Begitu prinsipnya. Jadi dengan segenap usaha ia coba mendapatkan nomor telepon Vani. Ia dapat dua nomor, HP dan rumah. Karena dia tidak mampu untuk nelpon HP, maka dia putuskan untuk mencoba memulai lagi usahanya lewat saluran telepon rumah.
“Mamat?…Mamat siapa?” tanya Vani.
“lo mungkin ngga inget, tapi kita pernah kenalan di depan Kafe”. Jawab Mamat.
“Mamat….ohhh..iya…Kak Mamat yang waktu itu celananya…mmm…”. kalimatnya terhenti. Vani takut untuk meneruskan. Sedangkan Mamat sadar bahwa akhir dari kalimat itu ya maksudnya ‘celananya yang belum diresleting’. Sial! Yang dia inget malah itu lagi.
Vani langsung menyambung kalimatnya, “kak Mamat ada apa nih?”
“ Oh nggak, gue cuma mau ngobrol aja”. Mamat menjawab. “sekalian gue juga mau wawancara tentang TBM”.
“tentang TBM?”, Vani bingung. “bukannya saya sudah diwawancara TBM hari Senin kemarin?”, tanya Vani. “emang wawancara TBM ada berapa kali?”.
Mamat menjawab,”oh…nggak. bukan gitu. Maksud gue, cuma pengen nanya-nanya aja sama lo tentang TBM”.
“Lho?! Bukannya kak Mamat juga anak TBM yah?, kok malah nanya-nanya nya ke saya?”, timpal Vani.
“Mmm…..”, otak Mamat berfikir. ini cewe diajak ngobrol susah amat.
“Ehh….bukan. Gue mau nanya tentang motivasi lo untuk masuk TBM. itu juga klo boleh”. Nadanya takut.
“oh…emangnya Kak Mamat disuruh dari PPAB (Panitia Penerimaan Anggota Baru) untuk nanya saya?”, sepertinya Vani sedang mencari tau motivasi dari telepon ini.
“nggak kok. Gue gak disuruh siapa-siapa. Gue sendiri yang mau telepon”, kata Mamat.
“…………..”, Vani diam.
“Halo?…..Van?”, Mamat bingung. Kok ga ada tanggapan.
“ya udah, kakak mau nanya apa?”, nada Vani menunjukkan bahwa dia sudah mulai tau motif si Mamat menelpon dia.
“Mmm….apa ya?”, Mamat bingung mulai dari mana. Dia jadi menyesal. Tadi memang dia sudah memikirkan topik apa yang mau dibicarain. Tapi kenapa berhenti sampai di situ?. Harusnya dipikirkan lagi tentang apa saja yang bisa dibicarain.
“Emang tadi Vani lagi ngapain?”, Mamat merasa situasinya menegangkan. Jadi dia berusaha mengganti topik.
“lagi baca-baca”. Jawab Vani.
“lagi baca apa?….mau ujian yah?”, tanya Mamat.
“Ngga kok, kan baca buku itu gak harus klo mau ujian aja, kak”, tegas Vani.
“oh…iya. wah…rajin juga ya Vani”
“kak, katanya tadi mau tanya tentang TBM?”, nada Vani sedikit protes.
“ohh iya…mmm….emang kenapa si Vani mau masuk TBM”.
“Yah….emang kepengen aja, abis saya tuh tertarik banget sama kegiatan-kegiatan yang berbau medis. Trus saya liat TBM lumayan menarik”. Jelas Vani.
“oh….iya…ya…ya”, kepala Mamat sambil mengangguk-ngangguk. Bukan karena dia mengerti, tapi sambil berfikir mau nanya apa lagi. Soalnya jawaban Vani sudah bisa dia duga karena Mamat emang sebelumnya udah baca formulir hasil wawancara Vani kemarin.
“Kak, saya mau nanya deh!”, tiba-tiba Vani bertanya balik.
“Yah?…”, Mamat sedikit kaget. “mau nanya apa?”.
“Emangnya wawancara dengan Kak Mamat ini ada hubungannya dengan TBM gak sih?’.
Mamat bingung juga ditanya begitu. Soalnya klo nanti dia jawab gak ada hubungannya sama sekali, Vani bisa minta udahan. Tapi klo dia bilang ada hubungannya, berarti dia bohong. Dia coba berfikir keras untuk mencari jawaban yang tepat.
Lalu terdengar suara. “Mamat!”, otaknya berkata. “ada yang bisa saya bantu?”.
“gue butuh saran nih, tak”. Mamat berharap. “gue harus ngomong apa ya?”.
“Mat, udah berapa kali sih lo nelpon cewe? Kok cupu amat?”, ledek otaknya.
“sialan loh!, kan lo tau gue udah sering. Cuma kali ini beda, tak”. Jawab Mamat.
“beda gimana maksud loh?”, tanya otak.
“cewe satu ini beda banget deh. Dia cantik, pintar, baik, calon istri gue banget deh pokoknya. Gue takut gagal nih. Gimana caranya biar dia tetep mau ngobrol ama gue tapi gue ga harus ngibul klo telepon gue ini gak ada hubungannya ama TBM?”.
“oh gitu!, gampang!. Bilang aja klo telepon lo ini gak ada hubungannya ama TBM, tapi lo sebenernya cuma mau ngobrol ama dia aja”. Usul Otak.
“eh dasar!….lo kan tau klo dia itu paling gak mau diganggu sama cowo”, Mamat protes.
“Mamat kawanku, terkadang kejujuran bisa sangat membantu”. Kata Otak bijak.
“ah…kagak deh!”, tolak si Mamat.
“kak Mamat!”, suara Vani memecah perbincangan Mamat dengan otaknya yang mirip orang Schizophren.
“Kak Mamat kok ditanya malah diam aja. Dari tadi kakak gak ngomong apa-apa”, suara Vani ada nada kesal.
“Mmm….”, Mamat jadi tambah bingung.
“Kak!”, suara Vani memotong. “klo emang ini gak ada hubungannya dengan TBM bilang aja. Gak usah bingung. Klo kak Mamat cuma mau ngobrol ama Vani sebenarnya gak masalah ko. Tapi sayang Vani sekarang lagi gak bisa lama-lama”. Kata Vani.
“……………….”, Mamat tambah bingung.
“Klo gitu udah dulu ya, kak!”, Vani memotong lagi. “Maaf banget, Vani ada yang harus dikerjain. Lain kali bilang aja jujur. Gak usah bingung”. Mamat jadi sedikit malu. “kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Assalaamu’alaikum!”. Tutup Vani.
“Wa’alaikum salam”, balas Mamat.
‘Klik’. Sambungan telepon putus.
Mamat masih diam membingung. Di kepalanya terdengar suara. “Udah gue bilang apa!”.
Bagi Mamat, dia baru saja mendapat pelajaran berharga. Seharusnya klo tadi dia jujur, pasti Vani gak akan kesal sama dia.
Wah!, tapi tadi dia bilang kapan-kapan ngobrol lagi. Itu kan artinya gue bisa nelpon lagi. Sungguh senangnya!. Mamat merasa ada sedikit harapan di kehidupannya yang menyedihkan. Untuk pertama kalinya dia bisa bicara di telepon dengan seorang cewe tanpa dibilang, “tolong jangan ganggu saya lagi!” sebelum teleponnya diputus.
Untuk Mamat, mengejar seorang Vani itu bagaikan mengejar bintang. Easy to look but harder to reach. Gadis ‘gebetannya’ ini sosok yang sangat sempurna. Sedangkan dirinya hanya seorang anak tukang las.
Mamat yang besar dari keluarga Betawi asli, tergolong keluarga ‘elit’ alias ekonomi sulit. Usaha bengkel motor yang ditekuni babenya itu warisan dari engkongnya yang meninggal waktu ia duduk di SMP. Enyaknya di rumah bantu-bantu perekonomian keluarga dengan berjualan sayur biar dapurnya bisa tetep ngebul. Rumahnya yang dua petak dijadiin rumah kontrakan sebagian biar ada pemasukan tambahan.
Mamat sendiri bisa sekolah ampe masuk FKUI juga tidak lain karena enyaknya ini yang kagak makan bangku sekolahan tapi klo soal ngatur ekonomi keluarga paling jago. Dengan gali lobang disana tutup lobang disini, akhirnya Mamat bisa juga disekolahin ampe kuliah. Padahal di lingkungan rumahnya itu bisa dihitung pake jari sebelah tangan yang pada kuliah. Dengan modal motor Honda butut hadiah dari babenya karena ia pernah juara kelas di SMA, Mamat berangkat tiap pagi ke kampusnya di Salemba dengan semangat 45.
Bagi Mamat dosa dunia akhirat klo dia sampe ngecewain harapan kedua orang tuanya yang sangat menginginkan dia jadi dokter. Padahal dia sendiri sebenernya kepengen jadi sarjana teknik yang sekolahnya sebentar biar dia bisa langsung bantu biayain adiknya nerusin sekolah. Tapi enyaknya itu selalu bilang, “udah Mat, soal duit lo kagak usah bingung. Itu urusan enyak ama babe lo. Yang penting sekarang lo sekolah aje yang bener. Biar lo bisa jadi dokter. Enyak kepengen banget ada anak enyak yang jadi dokter”. Dengan modal wejangan enyaknya inilah dia memberanikan diri ikut SPMB ngelamar masuk FKUI.